Sejarah Desa Kedaleman

  23 Maret 2017  |  DESA KEDALEMAN

Dahulu di kala puncak kejayaan Kerajaan Blambangan yang dipimpin seorang Raja yaitu Prabu Urubisma Minak Jinggo, banyak kerajaan – kerajaan kecil yang menjadi taklukannya sehingga diantara sekian banyak terdapat kerajaan kecil dan salah satunya adalah Kerajaan Kebrukan.

Kerajaan Kebrukan berdiri pada tahun 1676 dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raja Aryo Sampean Dalem. Raja Aryo sampean dalem dikaruniai 2 orang putra laki – laki yaitu Putra yang pertama adalah Aryo Samparangin dan Putra yang kedua adalah Aryo Den Tondo.

Kedua anaknya tersebut mulai dari sejak kecil sampai dewasa tidak pernah akur karena watak, sikap, tabiat dan kepribadian keduanya sangat berbeda. Aryo samparangin ( putra pertama ) dikala lahir kedua telapak kakinya terdapat belang separo lingkaran berbentuk huruf U yang terbalik atau kata orang – orang pintar menyebutnya Tapal Kuda Emas. Beliau sakti bisa terbang, bisa berjalan diatas awan, bisa berjalan diatas laut dan bisa berjalan didalam bumi, itulah yang menyebabkan beliau tidak betah di istana dan sehari – harinya mengembara terus itulah sosok dari Aryo Samparangin.

Lain halnya dengan putra yang kedua yaitu Aryo Den Tondo, sejak kecil hingga dewasa beliau jarang sekali keluar istana, sehari – harinya beliau mengurung diri di kamarnya. Beliau hanya belajar – belajar dan belajar sehingga banyak buku – buku yang dipelajarinya mulai dari buku tata negara, ekonomi, sosiologi, antropolooogi, politik, psikologi dan kesusastraan. Beliau sering sekali mendampingi ayahnya di Balai Paseban Agung dalam hal memecahkan masalah, dalam kepribadiannya terdapat sosok seorang figure yang arif dan bijaksana dalam hal menentukan sikap.

Tatkala usia Raja / Prabu Arya Sampean Dalem sudah lanjut, tenaga dan fikiran sudah mulai melemah maka dikumpulkanlah kedua anaknya yaitu Aryo Samparangin Dan Aryo Den Tondo di Balai Paseban Agung yang disaksikan oleh para patih, senopati, tumenggung dan para demang. Para patih tersebut diantaranya adalah :

  1. Patih Subandriyo
  2. Patih Ronggo Sitoto
  3. Penasehat Raja ( Mbah Rogo )

Setelah semua sudah berkumpul di Balai Paseban Agung maka Raja Aryo Sampean Dalem menceritakan kepada semua yang hadir di Balai Paseban Agung tentang kesehatannya dalam akhir – akhir ini yang sering sakit – sakitan, dan beliau takut terhadap nasib roda kepemerintahan Kerajaan Kebrukan mendatang. Semua yang hadir di Balai Paseban Agung merasa sangat sedih dan ada pula yang menangis setelah mendengar raja bercerita, singkat cerita para patih, senopati, Tumenggung dan Demang meminta dengan secepatnya untuk mengangkat salah satu putranya untuk menggantikan posisi sang Raja.

Dengan kebijaksanaan yang tinggi dengan memandang jauh kedepan, maka anak yang kedualah yang dipilih sang Raja untuk menggantikan posisinya menjadi Raja. Dengan alasan karena anak yang kedua sering kali mendampingi sang ayah sehingga banyak tahu tentang seluk beluk kerajaan baik diluar maupun didalam. Lain halnya dengan anak yang pertama yang kerjanya cuma bermain atau mengembara. Semua yang hadir di Balia Paseban Agung menyetujui pendapat sang Raja, maka diangkatlah Aryo Den Tondo sebagai Raja di Kerajaan Kebrukan dan sang Kakak yaitu Aryo Samparangin menjadi Maha Patih.

Pemasangan mahkota Raja dan sertifikat kerajaan berikut 3 ( tiga ) pusaka kembar kerajaan yang bernama :

  1. Pedang Jangkung
  2. Pedang Tebeng
  3. Pedang Aling – aling

Diserahkan oleh Raja Aryo Sampean Dalem kepada Raja baru yaitu Raja Aryo Den Tondo. Semua yang hadir di Balai Paseban Agung merasa sangat gembira setelah diangkatnya raja yang baru. Penobatan raja ini terjadi pada tahun 1700an, 7 ( tujuh ) hari setelah penobatan Raja yang baru Raja Aryo Sampean Dalem Mangkat.

 

MAHAPATIH ARYO SAMPARANGIN MENGASINGKAN DIRI KE GUNUNG PUGER

Satu tahun lamanya setelah penobatan raja, maka timbullah bisikan – bisikan jahat dari orang – orang  terdekat Patih Aryo Samparangin karena kebijakan ayahnya yang jelas telah menyalahi aturan - aturan kerajaan.

Mereka berpendapat seharusnya putra  pertamalah yang seharusnya menjadi Raja bukan putra yang kedua, Patih Samparangin dikala itu sempat bingung mau merebut tahta kerajaan yang sudah syah dan akhirnya dia memutuskan keluar dari Kerajaan Kebrukan menuju Gunung Puger dan beliau disana mendirikan kerajaan. Kerajaan tersebut diberi nama Kerajaan Kebrukan Puger yang artinya Bukaing Puger dari situlah akhirnya Raden Aryo Samparangin berubah total, yang dulunya suka bermain dan mengembara sekarang beliau hanya berdiam dan hidup tenang didalam istana dan beliau mampu membawa pemerintahan yang adil dan makmur, gemah ripah loh jinawi toto raharjo. Dan akhirnya beliau mangkat disana.

Salah satu bukti apabila ada acara  hajatan di desa kami maka adat yang tidak pernah ditinggalkan adalah kesenian tari Gandrung dari daerah Banyuwangi dan masyarakat di desa kami tidak berani meninggalkan kesenian tersebut.

Setelah melintasi masa duka atas mangkatnya Raja Sepuh , Raja Baru segera bangkit dan gigih berjuang sehingga mampu membangun strategi kekuatan untuk menjalin persatuan dan kesatuan dengan para Raja tetangga. Dengan demikian maka terciptalah suasana Gemah Ripah Loh Jinawi Tata Tentrem Kerto Raharjo.

Selang beberapa tahun kemudian datanglah Kolonial Belanda yang mulanya menanam persaudaraan sedangkan sifat sang raja itu sendiri senang terhadap persaudaraan. Lama kemudian Belanda memasukkan strategi politiknya yaitu : Devide et Empera yang artinya Memecah belah dan menguasai. Raja merasa politik yang dibawa oleh Kolonial Belanda tidak cocok maka Raja segera mengadakan perlawanan, sayang sekali karena pihak kerajaan kurang memiliki strategi dan peralatan perang maka porak porandalah kekuatan kerajaan dan Raja Aryo Den Tondo gugur di dalamnya. Penyebab hancurnya kerajaan adalah Kolonial Belanda atau Penjajahan Belanda.

 

 

TAPAK TILAS KERAJAAN SEKARANG MENJADI NAMA DESA DAN PADUKUHAN

 

Dalem artinya : Rumah dan Kedaleman artinya : Kawasan rumah raja yang sekarang menjadi Desa Kedaleman ( Dusun Krajan), Kearah barat adalah Karangsari yang artinya pertamanan  ( taman ) sebelum memasuki rumah sang raja sekarang menjadi Dusun Karangsari, Kearah Barat terus ke Selatan adalah Kepatihan yang dulunya disitu terdapat Gunung Patih dan sekarang menjadi Dusun Kepatihan. Dusun Kepatihan ke Barat adalah Puspan yang dulunya di situ adalah pos atau tempat kuda para patih kerajaan yang sekarang menjadi Dusun Puspan, Sedangkan kebun yang berada di tengah kerajaan di sebelah Barat kediaman Raja Aryo Sampean Dalem sekarang menjadi Dusun Kebondalem yang artinya kebun di dalam.

Demikian sejarah berdirinya Desa Kedaleman yang diambil langsung dari warga yang mengetahui cerita berdirinya Kerajaan Kebrukan

 

Sudah sejak awal Desa Kedaleman termasuk wilayah Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi. Adapun Desa Kedaleman dibagi menjadi 5 ( Lima ) dusun, yaitu :

  1. Dusun Krajan                       3.   Dusun Karangsari
  2. Dusun Kebondalem                         4.   Dusun Kepatihan              5. Dusun Puspan.

Contact Details

  Alamat :  
  Email :
  Telp. :
  Instagram :
  Facebook :
  Twitter :


© 2019,   Web Desa Kabupaten Banyuwangi